Internet di katakan Perpustakaan Virtual

PENDAHULUAN

Di era yang semakin bertambah mudah ini, banyak para ilmuan dalam meningkatkan potensinya untuk mengembangkan alat yang semakin canggih dan memuaskan. Begitu juga dengan perpustakaan, perpustakaan di era modern ini harus pintar-pintar dalam memanjakan pengunjung ataupun pemakai. Perpustakaan di era modern ini tidak hanya sebuah buku yang di tata rapi di rak, melainkan di salin ataupun di ganti menjadi digital. Sehingga para pemakai ataupun pengguna tidak terlalu susah untuk pergi ke perpustakaan meminjam bahan pustaka.
Kebutuhan internet di masa sekarang ini sangatlah penting. Internet tidak hanya digunakan untuk alat komunikasi ataupun sekedar memanjakan diri disaat santai. Namun, internet menjadi media untuk mencari infromasi. Secara umum ada banyak yang dapat di peroleh apabila seseorang menggunakan akses internet.
Peningkatan media yang semakin modern ini, perpustakaan menjadikan internet sebagai penunjang dalam meningkatkan kebutuhan sumber informasi untuk khalayak umum. Ide ini akan mempermudah meluasnya pengetahuan atau bahan pustaka dengan akses intrenet. Pemakai bisa dengan mudah memilih atau mencari hal yang di inginkan. Hal tersebut membantu pengembangan dan arah masa depan perpustakaan berbasis teknologi informasi menuju ke arah perpustakaan digital.
Perkembangan ini akan memberikan efektivitas dan efisiensi dalam bekerja, pada akhirnya akan memberikan keuntungan. Penggunaan teknologi informasi mempermudah pertukaran infromasi atau bahan pustaka antar perpustakaan sehingga penyebaran pengetahuan atau bahan pustaka menjadi begitu cepat.
Perkembangan dunia perpustakaan dilihat dari segi koleksi data dan dokumen yang di simpan, yanng dulu berupa koleksi buku sekarang menjadi perpustakaan digital yang memiliki keunggulan dalam kecepatan pengaksesan karena berorientasi ke data digital dan media jaringan komputer (internet). Hal inilah yang menjadi sebab penggunaan dan penerapan internet di suatu perpustaakaan menjadi ukuran kemajuan.

Sekarang Akses Perpustakaan UGM menjadi Lebih Mudah dengan mLibrary

Perpustakaan UGM, 4 Maret 2014.

MLibrary Perpustakaan Universitas Gadjah Mada hadir di Research Week UGM, 13-17 November 2013. Satu aplikasi baru berbasis android diluncurkan oleh Universitas Gadjah Mada dan PT. Gamatechno bagi Perpustakaan. Sivitas akademika UGM dapat mengaktifkan perangkat mobil berbasis android dari versi android 2.3.3 (Gingerbread) ke atas untuk tetap terhubung dengan Perpustakaan UGM. Keuntungan yang diperoleh bagi pengguna fasilitas ini adalah kemudahan dalam mengakses katalog integrasi perpustakaan di lingkungan UGM, mendapatkan informasi terkini kegiatan di perpustakaan, dan yang pasti sivitas akademika dapat melakukan reservasi buku, serta mengontrol peminjaman secara mandiri.

Aplikasi MLibrary dapat diunduh di play store google dari perangkat mobil masing-masing. Selanjutnya aktifkan keanggotaan Perpustakaan Universitas untuk mendapatkan login ID dan password. Selanjutnya sivitas akademika dapat menikmati kemudahannya. Aplikasi tersebut mendukung sivitas akademika untuk melakukan penelusuran informasi pustaka dalam http://sipus.simaster.ugm.ac.id/digilib/. Online Public Access Catalog terintegrasi antara Perpustakaan Universitas,

Perpustakaan Farmasi, Perpustakaan Filsafat, Kedokteran Gigi, dan Perpustakaan Geografi. Lengkap dengan integrasi fitur peminjaman dan pengembaliannya. MLibrary juga terhubung dengan http://lib.ugm.ac.id/, website perpustakaan UGM, sebuah titik akses untuk mendapatkan informasi dan koleksi Perpustakaan UGM berbentuk buku, terbitan berkala, karya-karya ilmiah, jurnal elektronik lokal dan internasional, serta koleksi langka (Hatta Corner). Khusus skripsi/tesis/disertasi dapat diakses secara terpisah di http://etd.ugm.ac.id/.

Bedah Buku UGM Dengan Judul “Kebangkitan Etnis Menuju Politik Identitas”

Kamis, 13 Mei 2014.

Perpustakaan Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Jurusan Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM serta Yayasan Pustaka Obor Indonesia berkesempatan untuk membedah buku hasil disertasi Doktor bidang Ilmu Politik Universitas Padjajaran dengan judul “Kebangkitan Etnis Menuju Politik Identitas”. Penelitian dilakukan di 5 kabupaten di Kalimantan Barat yakni Kabupaten Landak, Bengkayang, Sintang, Sanggau, dan Sekadau.

Dalam acara bedah buku ini, Dr. Sri Astuti Buchari, M.Si selaku penulis hadir sebagai pembicara bersama dengan Abdul Gaffar Karim, M.A. (JPP Fisipol UGM), dan Dr. Yanis Musdja (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) sebagai moderator. Selama kurang lebih dua jam, peserta bedah buku diajak untuk melihat realita identitas di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat, yang telah terangkum dalam 224 halaman buku.

Marjinalisasi yang dialami suku Dayak di Kalimantan Barat, bahkan semenjak masa penjajahan Belanda, membuat mereka memiliki ikatan emosional sesama etnis yang tinggi. Perlakuan yang berbeda dalam aspek pembangunan, pendidikan, serta kesehatan membangkitkan semangat putra Dayak untuk memperjuangkan hak-hak dengan cara berkonsolidasi memilih tokoh Dayak demi kesejahteraan masyarakat mereka. Semangat kebangkitan suku Dayak inilah yang melatarbelakangi Dr. Sri Astuti Buchari, M.Si menuliskan buku ini.

Menurut Sri Astuti, etnis Dayak adalah etnis yang pendiam, halus, dan cenderung introvert. Akan tetapi mereka menjadi masyarakat inferior karena dianggap sebagai kuli, pemalas, dan tidak produktif. Mereka cenderung termarjinalkan dan didiskriminasi. Hal ini membuat mereka tidak mendapatkan kesejahteraan yang layak. Meski demikian, ikatan emosional di antara mereka semakin erat dan kuat. Ikatan komunal Dayak yang erat dibuktikan dengan munculnya identitas kelompok di mana Dayak mengasosiasikan diri dengan agama Kristiani. Apabila anggota kelompok mereka memeluk agama Islam, dia tidak lagi dianggap sebagai bagian dari etnis Dayak.

Politik identitas muncul sebagai cara bagi masyarakat Dayak untuk mencapai kesejahteraan tersebut. Politik identitas mengacu pada tindakan politik yang mengedepankan kesamaan identitas atau karakteristik yang berbasis pada ras, etnis, jender, atau agama. Dalam kasus ini, masyarakat Dayak berkonsolidasi untuk memilih dan memenangkan tokoh Dayak untuk memimpin sebagai Gubernur pada Pilkada Gubernur Kalimantan Barat tahun 2007.

Sri Astuti juga mengatakan bahwa politik identitas adalah penting dilakukan di tempat tertentu dalam konteks memperjuangkan hak dan kesejahteraan masyarakat, asalkan mereka tidak menjadi etnosentrisme. Adanya demokrasi dan desentralisasi di era reformasi ini juga membuka kesempatan bagi tokoh Dayak karena orang lokal-lah yang memahami kebutuhan masyarakatnya sendiri.

Abdul Gaffar Karim menambahkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang memiliki masalah identitas sejak dulu mengingat keberagaman Indonesia yang sangat majemuk. Batas alamiah dari politik identitas adalah masalah kesejahteraan. Menurut beliau, isu identitas tidak akan muncul apabila tidak ada marjinalisasi terhadap identitas tertentu. Ekspresi identitas dapat dilakukan selama mengedepankan equality dan tidak mengganggu ekspresi identitas yang lain.

Pengembangan Pelayanan Perpustakaan Surakarta Untuk Penderita Cacat (Disable People) Serta Upaya Untuk Meningkatkan Minat Baca Masyarakat.

Tujuan penelitian ini untuk mengungkapkan pendapat masyarakat mengenai layanan, sarana dan prasaranan di dalam perpustakaan Surakarta, serta memberikan strategi sebagai upaya untuk meningkatkan minat baca di masyarakat dan pengembangan pelayanan perpustakaan untuk penderita cacat (disable people). Hal ini di perlukan agar perpustakaan yang di maksudkan sebagai sumber informasi tidak di tinggalkan, agar sumber informasi yang berada di perpustakaan bisa di nikmati, di rasakan dan di perlukan oleh seluruh masyarakat tanpa memandang siapapun itu.

Penelitian bersifat pengembangan, sehingga diperlukan waktu 6 bulan. Pada tahap pertama penelitian bersifat… dengan teknik pegumpulan data dengan…. wawancara mendalam, pengamatan terlibat, dan analisis dokumen/arsip. Validitas data menggunakan …

Persepsi masyarakat terhadap layanan pustakawan mempengaruhi tingkat kedatangan masyarakat di perpustakaan, meskipun tidak semua persepsi itu benar. Karena tidak semua pustakawan melakukan layanan yang kurang baik. Boleh jadi karena sarana dan prasarana untuk menunjang layanan perpustakaan belum semua memadai. Bahkan sarana perpustakaan di Surakarta untuk kaum difabel juga belum ada. Meskipun pemerintah telah membuat peraturan tentang kesejahteraan penderita cacat, desain bangunan perpustakaan serta koleksi untuk kaum difable terlihat kurang memadai.

Ada tiga hal yang menjadi catatan terhadap kelemahan perpustakaan yang tidak sejalan. Pertama sarana dan prasarana yang masih belum bisa dinikmati oleh kaum difabel. Kedua, koleksi yang kurang beragam dan hanya sedikit. Ketiga, pelayanan pustakawan yang kurang menyenangkan. Maka dapat di simpulkan bahwa masih banyak perpustakaan yang masih di bawah standar, karena pengembangan pelayanan untuk penderita difable dan upaya dalam meningkatkan minat baca masyarakat masih belum tersentuh secara nyata.

Pihak Dinas Pendidikan perlu melakukan pengembangan terhadap perpustakaan Surakarta sebagai bentuk untuk meningkatan minat baca masyarakat dan kepedulian terhadap kamu difabel, agar pendirian perpustakaan tidak terlihat sia-sia dan tidak ada ketertinggalan informasi di dalam masyarakat. Meskipun di era yang canggih ini masyarakat bisa mengakses dengan cepat sumber informasi, hal itu tidak berarti semua informasi dapat di katakan benar, maka dari itu pepustakaan di buat untuk menyimpan sumber informasi yang sudah jelas kebenarannya. Sehingga sumber informasi yang berada di perpustakaan bisa di manfaatkan tanpa ada keraguan kebenarannya.

kata kunci : layanan perpustakaan, Disable people, Minat Baca Masyrakat

Pentingnya Menanamkan Proses Berbangsa dan Bernegara Melalui Pendidikan Kewarganegaraan Kepada Generasi Muda

BAB I
Pendahuluan

A. Latar Belakang

Generasi Muda merupakan aset bangsa yang berharga yang menentukan maju atau mundurnya suatu bangsa. Dengan generasi muda yang berkualitas, maka suatu bangsa mempunyai harapan untuk lebih maju. Kualitas generasi muda harus diimbangi dengan rasa nasionalisme yang tinggi. Salah satunya yaitu menanamkan pentingnya berbangsa dan bernegara, hal ini harus di lakukan sejak dini, melalui Pendidikan Kewarganegaraan, sehingga bisa di pahami dengan baik dan diimplementasikan. Hal ini di maksudkan untuk menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis.

Namun, saat ini banyak terjadi kemerosotan tentang kesadaran berbangsa dan bernegara. Kesadaran yang belum baik itu dapat di lihat dalam perilaku, yang masih menunjukan tindakan-tindakan yang melanggar kaidah hukum.
Kata kewarganegaraan sering di pakai pada situasi tertentu dan terbatas. Kewarganegaraan juga sering di anggap hanya sebatas status legal yang memungkinkan seseorang untuk tinggal dan beraktifitas dalam suatu wilayah tertentu. Oleh karena itu, tidak jarang kita menemukan bahwa orang menganggap warga negara yang baik hanya terbatas pada kewajiban membayar pajak, mengibarkan bendera merah putih dan menyanyikan lagu kebangsaan. Pemahaman semacam ini jelas salah, maka dari itu pemahaman mengenai bangsa dan negara harus di mulai sejak dini.

Pendidikan Kewarganegaraan memegang peranan penting dalam membentuk generasi muda yang cinta akan Indonesia, memahami pentingnya berbangsa dan bernegara, hak dan kewajiban warga negara, ketahanan nasional, wawasan nusantara, serta politik dan strategi nasional. Pemahaman ini harus terus di tanamkan supaya menumbuhkan generasi muda yang unggul, nasionalisme dan dapat meneruskan cita-cita dan tujuan Bangsa Indonesia. Dimana ada dua dimensi utama kewarganegaraan, yakni “kewarganegaraan sebagai status” dan “kewarganegaraan sebagai praktik”. Makalah ini akan membahas mengenai Pendidikan Kewarganegaraan, Kewarganegaraan serta berbangsa dan bernegara.

B. Rumusan Masalah
1. Menjelaskan pengertian Pendidikan Kewarganegaraan
2. Menjelaskan pengertian dari Kewarganegaraan
3. Menjelaskan proses Berbangsa dan Bernegara di Indonesia

C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian Pendidikan Kewarganegaraan
2. Mengetahui pengertian Kewarganegaraan
3. Mengetahui proses Berbangsa dan Bernegara Indonesia

D. Manfaat
1. Memberikan pemahaman tentang Pendidikan Kewarganegaraan
2. Memberikan pemahaman tentang arti penting Kewarganegaraan
3. Memberikan pemahaman tentang proses Berbangsa dan Bernegara

BAB II
Pembahasan

A. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan
Setiap warga negara seharusnya mendapatkan pendidikan kewarganegaraan sebagai pemantik dalam pemahaman kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada hakikatnya pendidikan adalah upaya sadar dari suatu masyarakat dan pemerintah suatu negara untuk menjamin kelangsungan hidup dan kehidupan generasi penerus, selaku warga masyarakat, berbangsa dan bernegara, secara berguna dan bermakna serta mampu mengantisipasi hari depan mereka yang senantiasa berubah dan selalu terkait dengan konteks dinamika budaya, bangsa negara, dan hubungan internasionalnya (Sunarto, 2013).
Sedangkan definisi kewarganegaraan menurut memori penjelasan dari pasal II peraturan penutup Undang-Undang No. 62 Tahun 1958 Tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, kewarganegaraan diartikan segala jenis hubungan dengan suatu negara yang mengakibatkan adanya kewajiban negara itu untuk melindungi orang yang bersangkutan. Adapun menurut Undang-Undang Kewarganegaraan Republik Indonesia, kewaragnegaraan adalah segala hal ihwal yang berhubungan dengan negara.
Definisi Pendidikan Kewarganegaraan juga dikemukakan oleh beberapa ahli, yaitu oleh :
a. Azyumardi Azra :
Pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan yang mengkaji dan membahas tentang permasalahan konstitusi lembaga-lembaga demokrasi, rule of law, HAM, hak dan kewajiban warga negaranya serta proses demokrasi.
b. Zamroni :
Pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan demokrasi yang bertujuan untuk mempersiapkan warga masyarakat berfikir kritis dan bertindak demokratis.
c. Merphin Panjaitan :
Pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan demokrasi yang bertujuan untuk mendidik generasi muda menjadi warga negara yang demokratis dan partisipatif melalui suatu pendidikan yang dialogial.
d. Soedijarto :
Pendidikan kewarganegaraan sebagai pendidikan politik yang bertujuan untuk membantu peserta didik untuk menjadi warga negara yang secara politik dewasa dan ikut serta membangun sistem politik yang demokratis.
Landasan Pendidikan Kewarganegaraan adalah Pancasila dan UUD 1945, yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, tanggap pada tuntutan perubahan zaman, serta Undang Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004 serta Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Kewarganegaraan yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional-Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Menengah-Direktorat Pendidikan Menengah Umum.

Adapun tujuan Pendidikan Kewarganegaraan adalah :
1. Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan.
2. Berpartisipasi secara bermutu dan bertanggung jawab, bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan pada karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain.
4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. (Kurikulum KTSP, 2006).

Ruang Lingkup Pendidikan Kewarganegaraan
Ruang lingkup Pendidikan Kewarganegaraan meliputi aspek-aspek sebagai berikut :
1. Persatuan dan kesatuan bangsa, meliputi: hidup rukun dalam perbedaan, cinta lingkungan, kebanggaan sebagai bangsa indonesia, sumpah pemuda, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, partisipasi dalam pembelaan negara, sikap positif terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, keterbukaan dan jaminan keadilan.
2. Norma, hukum dan peraturan, meliputi: tertib dalam kehidupan keluarga, tertib di sekolah, norma yang berlaku di masyarakat, peraturan-peraturan daerah, norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sistem hukum dan peradilan nasional, hukum dan peradilan internasional.
3. Hak asasi manusia meliputi: hak dan kewajiban anak, hak dan kewajiban anggota masyarakat, instrumen nasional dan internasional HAM, pemajuan, penghormatan dan perlindungan HAM.
4. Kebutuhan warganegara meliputi: hidup gotong royong, harga diri sebagai warga masyarakat, kebebasan berorganisasi, kemerdekaan mengeluarkan pendapat, menghargai keputusan bersama, prestasi diri, persamaan kedudukan warganegara.
5. Konstitusi negara meliputi: proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama, konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia, hubungan dasar negara dengan kostitusi.
6. Kekuasaan dan Politik meliputi: Pemerintahan desa dan kecamatan, Pemerintahan daerah dan otonomi, Pemerintah pusat, Demokrasi dan sistem politik, Budaya politik, Budaya demokrasi menuju masyarakat madani, Sistem pemerintahan, Pers dalam masyarakat demokarasi.
7. Pancasila meliputi: kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara, proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara, pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, Pancasila sebagai ideologi terbuka. (Kurikulum KTSP, 2006)

B. Pengertian Kewarganegaraan

Kewarganegaraan artinya keanggotaan yang menunjukkan hubungan atau ikatan yang tak terputuskan antara warga negara dengan negara. Istilah kewarganegaraan dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut :
a. Kewarganegaraan dalam Arti Yuridis dan Sosiologis
1) Kewarganegaraan dalam arti yuridis ditandai dengan adanya ikatan hukum antara warga negara dengan negara. Adanya ikatan hukum itu menimbulkan akibat-akibat hukum tertentu. Tanda dari adanya ikatan hukum, misalnya akta kelahiran, surat pernyataan, bukti kewarganegaraan, dan lain-lain.
2) Kewarganegaraan dalam arti sosiologis, tidak ditandai dengan ikatan hukum, tetapi ikatan emosional, seperti ikatan batin, ikatan keturunan, ikatan nasib, ikatan sejarah, dan ikatan tanah air. Dengan kata lain, ikatan ini lahir dari penghayatan warga negara yang bersangkutan.
Dari sudut kewarganegaraan sosiologi, dapat dilihat bahwa kewarganegaraan yuridis mungkin tidak memiliki persyaratan kewarganegaraan secara sosiologis. Adapun dari sudut kewarganegaraan sosiologi, ada hal yang belum memenuhi persyaratan yuridis yang merupakan ikatan formal warga negara dengan negara. Adakalanya terdapat seorang warga negara hanya secara yuridis saja sebagai warga negara, sedangkan secara sosiologi belum memenuhi.
b. Kewarganegaraan dalam Arti Formil dan Materiil
1) Kewarganegaraan dalam arti formil menunjuk pada tempat kewarganegaraan. Dalam sistematika hukum, masalah kewarganegaraan berada pada hukum publik.
2) Kewarganegaraan dalam arti materiil menunjuk pada akibat hukum dari status kewarganegaraan, yaitu adanya hak dan kewajiban warga negara.
Kewarganegaraan seseorang mengakibatkan orang tersebut memiliki pertalian hukum serta tunduk pada hukum negara yang bersangkutan. Orang yang sudah memiliki kewarganegaraan tidak jatuh pada kekuasaan atau kewenangan negara lain. Negara lain tidak berhak memperlakukan kaidah-kaidah hukum pada orang yang bukan warga negaranya (Winarno, 2006: 49)

C. Pengertian Bangsa dan Negara
Bangsa dan negara pada hakikatnya adalah berbeda. Pebedaan tersebut terdapat pada terlihat atau tidaknya. Bangsa itu tidak terlihat secara nyata atau abstrak, tetapi dapat dirasakan. Sedangkan negara terlihat secara nyata atau ada, dapat dilihat dan dirasakan. Bangsa Indonesia lahir sejak adanya sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.
Sedangkan Negara Indonesia lahir sejak proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.
a. Bangsa
Menurut Badri Yatim (1999), Konsep Bangsa memiliki 2 (dua) pengertian, yaitu bangsa dalam pengertian sosilogis antropologis dan bangsa dalam pengertian politis ( Winarno, 2009).
1. Bangsa dalam arti sosiologis antropologis
Bangsa dalam arti sosiologis antropologis adalah persekutuan hidup masyarakat yang beridiri sendiri yang masing-masing anggota persekutuan hidup tersebut merasa satu kesatuan ras, bahasa, agama, dan adat istiadat.
2. Bangsa dalam arti politis
Bangsa dalam pengertian politik adalah masyarakat dalam suatu daerah yang sama dan mereka tunduk pada kedaulatan negaranya sebagai suatu kekuasaan tertinggi ke luar dan ke dalam.

Beberapa ahli juga mengemukakan definisi bangsa, salah satunya menurut :
Otto Bauer mengemukakan Bangsa adalah suatu persatuan yang timbul dari persamaan nasib.
b. Negara
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, negara mempunyai dua pengertian. Pertama, negara adalah organisasi di suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati rakyatnya. Kedua, negara adalah kelompok sosial yang menduduki wilayah atau daerah tertentu yang diorganisasi di bawah lembaga politik dan pemerintah yang efektif, mempunyai satu kesatuan publik, berdaulat sehingga berhak menentukan tujuan nasionalnya ( Winarno, 2009).
Pengertian negara juga dikemukaan oleh beberapa ahli, salah satunya :
Georg Jellinek mengemukakan Negara ialah organisasi kekuasaan dari sekelompok manusia yang telah berdiam diri di suatu wilayah tertentu.
Unsur-unsur negara :
1. Rakyat
Yaitu orang-orang yang bertempat tinggal di wilayah itu, tunduk pada kekuasaan negara dan mendukung negara yang bersangkutan.
2. Wilayah
Yaitu daerah yang menjadi kekuasaan negara serta menjadi tempat tinggal bagi rakyat. Wilayah negara mencakup darat, laut, dan udara.
3. Pemerintah yang berdaulat
Yaitu adanya penyelenggara yang memiliki kekuasaan menyelenggarakan pemerintah di negara tersebut, baik kedaulatan ke dalam ataupun kedaulatan keluar.
Sifat-sifat negara :
1. Memaksa, artinya memiliki kekuasaan untuk menyelenggarakan ketertiban dengan memakai kekerasan fisik secara legal.
2. Monopoli, artinya memiliki hak menentukan tujuan bersama masyarakat. Negara memiliki hak untuk melarang sesuatu yang bertentangan dan menganjurkan sesuatu yang dibutuhkan masyarakat.
3. Mencakup semua, artinya semua peraturan dan kebijakan negara berlaku untuk semua orang tanpa terkecuali.

Proses berbangsa dan bernegara Indonesia
a. Masa sebelum kemerdekaan.
b. Proses berbangsa dan bernegara pada zaman sebelum kemerdekaan lebih berorientasi pada perjuangan dalam melawan penjajah.
c. Proses berbangsa dan bernegara mulai berkembang sejak sumpah pemuda dikumandangkan keseluruh nusantara. Sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 merupakan awal kelahiran Bangsa Indonesia. Dalam periode selanjutnya secara nyata mulai dipersiapkan kemerdekaan indonesia pada masa pendudukan jepang yaitu dengan dibentuknya BPUPKI dan puncaknya adalah ketika proklamasi kemerdekaan indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Proklamasi tersebut merupakan awal dari lahirnya Negara Indonesia.
d. Proses berbangsa dan bernegara pada masa sekarang erat kaitannya dengan hakikat pendidikan kewarganegaraan yaitu upaya sadar dan terencana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bagi warga negara dengan menumbuhkan jati diri dan moral bangsa sebagai landasan pelaksanaan hak dan kewajiban dalam bela negara demi kelangsungan kehidupan dan kejayaan bangsa dan negara.
Begitu panjang proses terbentuknya Bangsa dan Negara Indonesia. Memerlukan perjuangan yang tidak sedikit dan pengorbanan yang begitu luar biasa yang patut kita hargai dan kita renungkan. Perjuangan tersebut akan sia-sia kalau perjuangan tersebut tidak kita lanjutkan. Inilah pentingnya pemahaman tentang proses berbangsa dan bernegara ditanamkan kepada siswa sebagai generasi penerus bangsa sehingga mereka dapat meneladani perjuangan pahlawan-pahlawan Indonesia. Melanjutkan perjuangan dan cita-cita Bangsa Indonesia yang tercantum dalam Alinea II dan IV UUD 1945.

Dalam ketetapan MPR No. VI/MPR/2001 menetapkan tentang Etika kehidupan Berbangsa untuk diamalkan oleh seluruh warga bangsa. Hal tersebut untuk membantu tegaknya etika moral dalam kehidupan berbangsa, dengan tujuan agar menjadi acuan dasar meningkatkan kualitas manusia yang sesuai dengan berkepribadian Indonesia dalam kehidupan berbangsa. Pokok-pokok yang terkandung dalam hal tersebut adalah : Pokok-pokok etika dalam kehidupan berbangsa mengedepankan kejujuran, amanah, keteladanan, sportifitas, disiplin, etos kerja, kemandirian, sikap toleransi, rasa malu, tanggung jawab, menjaga kehormatan serta martabat diri sebagai warga negara.
Etika kehidupan berbangsa :
1. Etika sosial dan budaya
2. Etika politik dan pemerintahan
3. Etika ekonomi dan bisnis
4. Etika penegakan hukum yang berkeadilan
5. Etika keilmuan
6. Etika lingkungan
Etika-etika tersebut harus ditaati dan dijalankan sebagaimana mestinya agar pemahaman tentang kehidupan berbangsa dan bernegara dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pentingnya pemahaman berbangsa dan bernegara sangat diperlukan untuk ditanamkan sejak dini. Dengan pemberian pemahaman yang cukup kepada generasi muda maka mereka akan merasa menjadi satu kesatuan bangsa dan negara Indonesia. Mereka akan merasa saling menghargai, melindungi, dan menjaga. Serta mencegah dari segala perbuatan yang tidak sesuai sebagai warga negara. Generasi muda adalah sebagai generasi penerus dalam melanjutkan perjuangan bangsa yaitu cita-cita dan tujuan Bangsa Indonesia. Maka generasi muda harus di bekali dengan pemahaman yang cukup untuk menjadi pedoman dalam menjaga bangsa dan negara untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang bersatu.
Cara menanamkan pemahaman berbangsa dan bernegara kepada generasi muda dapat dilakukan dengan :
a. Melalui pendidikan kewarganegaraan sebagai sarana utama tentang konsep berbangsa dan bernegara untuk mencapai tujuan dan cita-cita bangsa Indonesia.
b. Melatih generasi muda untuk bangga terhadap produk dalam negeri dan mengetahui kekayaan bangsa serta melatih generasi muda untuk selalu berprestasi.
c. Mengajarkan kepada generasi muda tentang pentingnya bersosial di masyarakat, dan pemahaman bahwa Indonesia adalah satu kesatuan, khususnya lingkup pendidikan.
d. Mengajarkan kepada generasi muda bahwa setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama sehingga tidak terjadi kesenjangan.
e. Mengajarkan kepada generasi muda tentang persamaan peran, dengan tujuan untuk saling mengenal dan meningkatkan kerja sama serta meminimalisir terjadinya tindak anarkis, seperti tawuran, kekerasan, pelecehan, dan sebagainya.
f. Mengadakan kompetisi yang edukatif dan sportif sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas dan sebagai wujud dalam pembuktian prestasi untuk bangsa dan negara sehingga timbul rasa bangga sebagai Bangsa Indonesia.
g. Memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mengembangkan potensinya masing-masing dengan sarana dan prasarana yang mendukung dan memadai.

BAB III
Penutupan

A. Kesimpulan
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia dan suku bangsa untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945 (Kurikulum Berbasis Kompetensi, 2004).
Proses berbangsa dan bernegara pada masa sekarang erat kaitannya dengan hakikat pendidikan kewarganegaraan yaitu upaya sadar dan terencana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bagi warga negara dengan menumbuhkan jati diri dan moral bangsa sebagai landasan pelaksanaan hak dan kewajiban dalam bela negara demi kelangsungan kehidupan dan kejayaan bangsa dan negara.
Kesadaran berbangsa dan bernegara merupakan sikap kita yang harus sesuai dengan kepribadian bangsa yang selalu dikaitkan dengan cita-cita dan tujuan hidup bangsanya. Kita dapat mewujudkannya dengan cara mencegah perkelahian antar perorangan atau antar kelompok dan menjadi anak bangsa yang berprestasi baik di tingkat nasional maupun internasional. Tapi saat ini banyak terjadi kemerosotan generasi muda tentang pentingnya berbangsa dan bernengara. Kurangnya pemahaman tentang pentingnya berbangsa dan bernegara menyebabkan kurangnya rasa saling memiliki dan saling menghargai antar warga negara khususnya generasi muda.Sebagai contoh banyak terjadi tawuran antar pelajar, kekerasan di sekolah, anarkis, kurang menghargai produk dalam negeri, dan lain sebagainya.
Pentingnya pemahaman berbangsa dan bernegara sangat diperlukan untuk ditanamkan sejak dini kepada generasi muda. Dengan pemberian pemahaman yang cukup mereka akan merasa saling menghargai, melindungi, dan menjaga. Generasi muda adalah sebagai generasi penerus dalam melanjutkan perjuangan bangsa yaitu cita-cita dan tujuan Bangsa Indonesia. Maka generasi muda harus di bekali dengan pemahaman yang cukup untuk menjadi pedoman dalam menjaga bangsa dan negara untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang bersatu.
Cara menanamkan pemahaman berbangsa dan bernegara kepada generasi muda dapat dilakukan dengan : Pendidikan kewarganegaraan sebagai konsep utama berbangsa dan bernegara, cinta produk Indonesia, menumbuhkan jiwa sosial, pemahaman persamaan hak dan kewajiban, pemahaman peran dan kerja sama, kompetisi yang edukatif dan sportif, serta pengembangan potensi.
B. Saran
1. Pemerintah harus lebih memperhatikan kepentingan bangsa dan negara dengan menanamkan pemahaman kepada generasi muda sebagai generasi penerus bangsa, bukan sebagai kepentingan individu atau golongan
2. Seorang pengajar harus bisa memberikan pemahaman yang baik tentang berbangsa dan bernegara, bukan hanya teoritis tapi praktik
3. Potensi generasi muda harus lebih diperhatikan dan dimaksimalkan dengan pengembangan potensi sesuai bakat dan minat dengan ditunjang sarana dan prasarana yang memadai untuk mencapai prestasi
4. Pemerintah seharusnya lebih adil dalam pemerataan kesejahteraan pendidikan sehingga tidak terjadi kesenjangan dan konflik.

Daftar Pustaka

Freddy K kalidjernih, Ph. D, “Puspa Ragam, Konsep dan Isu Kewarganegaraan”, (Bandung : Widya Aksara Press, 2011).
Drs. H. Sukarno, M.Si, “Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan”, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2015).

GERAKAN PUNDI AMAL PEMUDA INDONESIA (PAPI) DI BLORA  

 

Generasi muda adalah generasi yang diandalkan untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Generasi muda adalah tulang punggung pembangunan, merekalah calon penerus masa depan bangsa. Sayangnya banyak generasi muda saat ini yang justru hidup terperangkap dalam dunia hedonisme, emosi yang tidak terkontrol yang berujung pada tawuran antar pelajar, miras dan narkotika, dan lain sebagainya. Media pun tampaknya tidak ada habisnya untuk meliput sisi negatif kehidupan anak-anak muda. Padahal masih banyak generasi muda yang bisa, mau dan mampu untuk melakukan suatu hal besar yang bahkan tidak semua orang mampu untuk melakukakannya.

Seperti generasi muda yang berada di Blora. Mereka membentuk Gerakan Pundi Amal Pemuda Indonesia (PAPI) yang di bentuk pada tahun 2012 ini. Mereka telah bersikeras dalam membentuk pemuda Indonesia yang memiliki jiwa kepedulian yang tinggi terhadap sosial. Pundi Amal Pemuda Indonesia (PAPI) ini merupakan relawan muda dari kalangan Sekolah Menengah Atas dan Mahasiswa di Blora. Pundi Amal Pemuda Indonesia (PAPI) sendiri dibuat oleh alumni SMA 1 Blora tahun 2012, dengan tujuan awal untuk kegiatan sosial dan pendidikan. Sekarang mereka telah memiliki anggota hingga 100 orang.

Pemuda Blora waktu itu hanya melakukan gerakan sosial sebagai respon positif atas keresahan dan keprihatinan mereka terhadap kondisi sosial di Blora. Sehingga mereka berkeinginan untuk melakukan kegiatan sosial ini, awal mula mereka mengadakan proyek sosial yaitu melakukan bakti sosial berupa bazar buku dan pembagian buku gratis kepada sekolah serta pelatihan softskill untuk anak-anak. Mereka juga memberikan training dengan materi yang sederhana. Tidak cukup sampai di sini, pada tahun 2013 mereka juga melakukan inisiasi pembangunan sumur, karena di Blora sendiri terdapat daerah yang kekeringan air, meskipun terdapat waduk. Mereka juga melakukan sosialisasi tentang pentingnya pendidikan bagi pemuda.

Mereka terus berlanjut ingin menginspirasi pemuda-pemuda Indonesia untuk menjunjung tinggi nilai-nilai sosial mereka. Sehingga pada tahun 2016 ini mereka mengupgread tujuan mereka, yang semula menuju kedaerahan sekarang keIndonesiaan. Dalam hal ini mereka mendapat respon positif, hingga mereka mendapatkan undangan untuk mengikuti acara ASEAN University Conference on Public Relations and Communication 2016  (APRC 2016) di University Utara Malaysia (UUM). Pundi Amal Pemuda Indonesia mendapatkan tiket emas, selain sebagai presenter juga diundang sebagai partner institution.

Hal ini merupakan jembatan emas bagi Pundi Amal Pemuda Indonesia (PAPI)  dalam mewujudkan visinya sebagai organisasi sosial yang memberikan manfaat kepada masyarakat luas dan pengembangan kepedulian dikalangan generasi muda Indonesia. Pundi Amal Pemuda Indonesia segera membentuk tim PAPI Go Global dengan Project Officer Diyan Wahyu Pradana (Sistem Informasi-ITS 2013) dibantu oleh Septian Agung (Teknik Kelautan-ITS 2014) dan Abdrizal Oktavianto (Teknik Industri-Undip 2013). Melalui Proses seleksi dan komitmen yang dilakukan oleh tim, maka terpilih perwakilan PAPI : Yulinda Rizky Pratiwi (Statistika-UII 2013), Puguh Wahyu (Teknik Industri-UII 2013), Meutya Rachmadanti (Teknik Sipil-STT Ronggolawe Cepu 2015) dan Tirta Manora (SMA N 1 Blora) sebagai delegasi dalam APRC 2016.

Semoga kedepanya akan tercipta berbagai gagasan dan ide brilliant untuk mewujudkan generasi Blora yang maju dan berguna untuk mengubah Blora ke arah yang lebih baik dalam arti yang sesungguhnya, dan berharap Pundi Amal Pemuda Indonesia (PAPI) dapat menjadi team yang luar biasa untuk mewujudkan cita-cita luhur bersama dibidang sosial, pendidikan, dan kewirausahaan.

TANGGAPAN SISWA SISWI MENGENAI CITRA NEGATIF DAN CITRA POSITIF DI PERPUSTAKAAN SMK N 1 KARANGANYAR

 

Citra adalah gambar atau gambaran mental dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Citra merupakan bayangan, lukisan, ataupun gambaran tentang sesuatu yang mungkin tercipta dari ketidaksengajaan atau perilaku yang di lakukan terus-menerus sehingga orang yang melihat memberikan persepsi. Begitu juga dengan perpustakaan yang merupakan tempat layanan publik yang harus membanggakan, sehingga harus mampu menjaga citra positif di depan masyarakat.

Citra positif yang harus di pertahankan pada perpustakaan SMK Negeri 1 Karanganyar yaitu :

  1. Pada penggambarannya perpustakaan merupakan tempat dimana sumber ilmu berkumpul.

Anggapan ini banyak di setujui oleh para siswa di SMK Negeri Karanganyar sendiri, karena di perpustakaan itu sendiri di sediakan buku-buku untuk referensi tugas mereka. Hal ini membuat mereka mudah dalam mencari tugas yang di berikan dari para guru.

  1. Pustakawannya yang cantik, pintar dan ramah, membuat para siswa tidak segan dan betah di perpustakaan.

Layanan ini harus ditingkatkan dan di kembangkan karena dengan adanya pustakwan yang cantik, pintar dan ramah membuat pemustaka datang ke perpustakaan dengan sendirinya.

  1. Pustakawan yang menguasai teknologi informasi dan mengetahui berita yang up to date.

Siswa siswi sangat setuju dengan anggapan ini dan supaya pustakawan meningkatkan dalam hal teknologi informasi.

Padahal sebagai pustakawan harus menguasai perkembangan teknologi informasi dan mengetahui berita up to date, sehingga jika ada pengujung saat bertanya pustakawan sudah tau tentang berita tersebut dan bisa menjawab pertanyaan dari pengunjung jika bertanya.

Di balik itu semua terdapat pandangan yang menganggap bahwa perpustakaan memberikan citra negatif, yang di paparkan oleh beberapa siswa SMK Negeri 1 Karanganyar, citra negatif yang memberikan kesan tidak baik pada perpustakaan, yaitu :

  1. Siswa-siswi beranggapan bahwa perpustakaan itu sebuah ruangan gelap, menyeramkan, membosankan dan penuh debu. Anggapan ini sangat merugikan perpustakaan maka dari itu pustakawan harus menghapus anggapan itu dengan cara menjadikan perpustakaan yang nyaman, menyenangkan, atau membuat acara pameran, bazar, dan seminar, sehingga pemustaka tertarik berkunjung ke perpustakaan.
  2. Salah satu pustakawan yang sedang bertugas sedikit menyebalkan dan pelayanannya yang begitu cuek dan kurang menyenangkan. Disini membuat profesi pustakawan tidak di segani oleh banyak orang, bahkan menjadi bahan ejekan karena orangnya membosankan.

Maka dari itu pustakawan harus bersikap sopan dan ramah supaya pemustaka yang datang lebih banyak dan nyaman berlama-lama diperpustakaan.

  1. Merasa koleksi perpustakaan yang sudah lama dan sedikit, yang di temukan hanya buku itu saja, tidak banyak referensi.

Citra negatif yang satu ini paling di tanggapi oleh pustakawan karena dengan koleksi yang lama maka akan membuat pemustaka yang mau berkunjung menjadi malas, oleh karena itu tugas pustakawan untuk memperbaharui koleksi dan menambah koleksi yang diinginkan siswa siswi maupun masyarakat, dan adanya informasi yang up to date yang dapat dikuasai oleh pustakawan.

Dapat disimpulkan bahwa citra negatif ini sangat merugikan perpustakaan, dan kita sebagai pustakawan harus menggubah citra negatif tersebut menjadi citra positif, hal seperti ini harus di sadari oleh pustakawan dan bisa di jadikan pijakan untuk menjadi lebih baik kedepan. Citra perpustakaan-pustakawan yang masih memprihatinkan di mata siswa-siswi hendaknya menjadi bahan instropeksi. Perpustakaan seharusnya menyadari citra positif tidak dapat diperoleh dengan membeli namun melalui proses. Citra positif merupakan cerminan kinerja dan sinergi segala aset yang dimiliki. Menumbuhkan citra positif perpustakaan merupakan hal yang sangat penting dilakukan. Dengan citra positif akan menumbuhkan loyalitas pemustaka sehingga perpustakaan menjadi prioritas bagi pemustaka dalam mencari informasi, dan seseorang akan bangga berprofesi sebagai pustakawan.

Pustakawan sebagai salah satu sumber daya manusia dalam perpustakaan yang berhadapan langsung dengan pemustaka dan menjadi ujung tombak dalam menumbuhkan citra positif perpustakaan penting membangun personal branding.

Pustakawan dapat berperan sebagai public relation bagi perpustakaan. Seorang kepala perpustakaan harus berusaha menjadi pemimpin yang selalu mendukung aktivitas bawahan sebagai rekan kerja sehingga pustakawan tidak terpasung dalam berkreasi. Hal ini akan memberikan kontribusi dalam membangun citra positif perpustakaan.

DIKSI (Pemilihan Kata)

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Diksi atau pemilihan kata sering kali menjadi masalah yang sangat biasa di masyarakat. Hal ini terjadi karena masih banyak penggunaan bahasa yang digunakan, sehingga menimbulkan pemilihan kata yang sebenarnya menjadi kurang pantas untuk di gunakan.

Pemilihan kata yang tepat merupakan sarana pendukung dan penentu keberhasilan dalam berkomunikasi. Pilihan kata atau diksi bukan hanya soal pilih-memilih kata, melainkan lebih mencakup bagaimana efek kata tersebut terhadap makna dan informasi yang ingin disampaikan. Pemilihan kata tidak hanya digunakan dalam berkomunikasi namun juga digunakan dalam bahasa tulis (jurnalistik). Dalam bahasa tulis  pilihan kata (diksi) mempengaruhi pembaca mengerti atau tidak dengan kata-kata yang kita pilih.

Dalam makalah ini, kami ingin mengulas sedikit mengenai diksi,agar pemilihan kata yang sering digunakan dan mempunyai makna salah bisa menjadi lebih baik lagi kedepannya.

2. Rumusan Masalah

  1. Menjelaskan pengertian kata dan kriteria dari pemilihan kata (diksi)
  2. Menjelaskan fungsi-fungsi kata
  3. Menjelaskan jenis-jenis dalam diksi
  4. Menjelaskan teknik pemilihan kata (diksi)
  5. Menjelaskan peranti-peranti diksi
  6. Menjelaskan kasus yang berhubungan dengan pemilihan kata (diksi)

3. Tujuan

  1. Untuk mengetahui makna dari diksi
  2. Untuk mengetahui beberapa jenis diksi
  3. Untuk mengetahui teknik pemilihan kata yang harus di gunakan
  4. Untuk mengetahui peranti-peranti diksi
  5. Untuk mengetahui kasus diksi yang sering terjadi

 

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Diksi

Kata adalah suatu unit dari suatu bahasa yang mengandung arti dan terdiri dari satu atau lebih morfem. Pada umumnya kata terdiri dari satu akar kata tanpa atau dengan beberapa afiks. Gabungan kata-kata dapat membentuk frasa, kalusa, atau kalimat.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) yang memberikan beberapa definisi mengenai makna kata, yaitu :

  1. Elemen terkecil dalam sebuah bahasa yang diucapkan atau dituliskan dan merupakan realisasi kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa.
  2. Konversasi bahasa.
  3. Morfem atau kombinasi beberapa morfem yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas.
  4. Unit bahasa yang dapat berdiri sendiri dan terdiri dari satu morfem (contoh kata) atau beberapa morfem gabungan (contoh perkataan).

Menurut bahasa Sansekerta kata mempunyai arti kathâ. Kemudian juga bisa berarti sebuah morfem atau gabungan morfem. Kata merupakan unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan, yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa. Dalam linguistik, kata merupakan morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas.

Kata juga merupakan satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi pada morfem tunggal (misalnya ibu, pagi, lupa, makan, nasi, rumah) atau gabungan morfem (misalnya bersama, perjuangan, kesabaran, terjadi). Dalam hal ini maka perlu pemilihan kata yang baik dan benar, atau yang sering disebut dengan diksi. Diksi adalah pilihan kata. Pilihan kata adalah proses atau tindakan memilih kata yang dapat mengungkapkan gagasan secara tepat, hasil dari proses atau tindakan pemilihan kata disebut pilihan kata.

Dalam mengungkapkan gagasan, perasaan, dan pikiran secara tepat dalam bahasa, baik lisan maupun tulisan, pemakaian bahasa hendaknya dapat memenuhi beberapa kriteria dalam pemilihan kata. Kriteria diksi itu di bagi menjadi 3 :

  1. Ketepatan

Pilihan kata yang digunakan harus mampu mewakili gagasan secara tepat dan dapat menimbulkan gagasan yang sama pada pikiran pembaca atau pendengar nya. Dalam hal ini harus memperhatikan banyak hal sebagai berikut :

  1. Kata – kata yang bermakna denotatif dan konotatif

Makna denotatif adalah makna yang engacu pada gagasan tertentu, yang tidak mengandung makna tambahan. Misalnya, kata makan, bermakna memasukkan sesuatu kedalam mulut, dikunyah, dan ditelan.

Makna konotatif adalah makna tambahan yang mengandung nilai rasa tertentu disamping makna dasarnya. Misalnya, kata meja hijau dapat berarti pengadilan dalam makna konotasinya.

  1. Kata-kata yang bersinonim

Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada asasnya mempunyai makna yang sama, tetapi bentuknya berlainan. Misalnya, kata cerdas dan cerdik, kedua kata itu bersinonim, tetapi kedua kata tersebut tidak persis, namun maknannya sama.

  1. Kecermatan

Kecermatan adalah pemilihan kata dengan kemampuan memilih kata yang benar-benar diperlukan untuk mengungkapkan gagasan tertentu.

Namun dalam hal ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan :

  1. Penggunaan makna jamak ganda,

Misalnya, para guru-guru sekolah dasar hadir dalam pertemuan.

  1. Penggunaan kata yang mempunyai kemiripan makna atau fungsi secara berganda

Misalnya, kita harus bekerja keras agar supaya dapat mencapai cita-cita.

  1. Penggunaan makna kesalingan secara berganda, maksudnya makna yang menyatakan tindakan ‘berbalas’.

Misalnya, ia berjalan bergandengan.

Pembetulannya : Ia berjalan bergandengan dengan adiknya.

  1. Konteks kalimatnya

Misalnya, pertemuan kemarin membahas tentang masalah disiplin pegawai.

Pembetulannya : Pertemuan kemarin membahas masalah disiplin pegawai.

  1. Keserasian

Keserasian dalam pemilihan kata berkaitan dengan kemampuan kata-kata yang sesuai dengan konteks pemakainnya yang berkaitan dengan faktor kebahasaan dan nonkebahasaan.

Faktor kebahasaan yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

  1. Hubungan makna anatara kata yang satu dan kata yang lain.

Contoh :

  • Ia sering berkunjung ke Yogya di mana dulu ia mengikuti kuliah.
  • Mereka menginginkan jembatan itu segera diperbaiki yang mana pemerintah juga telah menyetujuinya.

Pembetulannya :

  • Ia sering berkunjung ke Yogya tempat dulu ia mengikuti kuliah.
  • Mereka menginginkan jembatan itu segera diperbaiki dan pemerintah juga telah menyetujuinya.
  1. Kelaziman penggunaan kata-kata tertentu.

Contoh :

Kata besar dalam bahasa Indonesia bersinonim dengan kata raya, agung, dan akbar. Demikian, pemakaian kata itu berbeda-beda, bila di ringkaskan kelaziman itu tampak seperti berikut :

  1. Jalan raya atau jalan besar
  2. Jaksa agung
  3. Guru besar
  4. Pengajian akbar

2. Fungsi Jenis Kata atau Kelas Kata

Kita telah memahami pengertian jenis kata atau kelas kata. Terdapat beberapa fungsi yang melekat pada jenis kata atau kelas kata tersebut, yaitu:

  1. Melambangkan pikiran atau gagasan yang abstrak menjadi konkret,
  2. Membentuk bermacam-macam struktur kalimat,
  3. Memperjelas makna gagasan kalimat,
  4. Membentuk satuan makna sebuah frasa, klausa, dan kalimat,
  5. Membentuk gaya pengungkapan sehingga menghasilkan karangan yang dapat dipahami dan dinikmati orang lain,
  6. Mengungkapkan berbagai jenis ekspresi antara lain, berita, perintah, penjelasan, argumentasi, pidato, dan diskusi,
  7. Mengungkapkan berbagai sikap, misalnya setuju, menolak, dan menerima.

 

  1. Jenis Kelas Kata

Jenis kelas kata dalam bahasa Indonesia terdiri atas verba (kata kerja), nomina (kata benda), adjektival (kata sifat), pronominal (kata ganti), numerial (kata bilangan), adverbial (kata keterangan), interogativa (kata tanya), demonstrativa (kata ganti penunjuk), artikula, preposisi (kata depan), konjungsi (kata sambung), dan fatis (kata penjelas).

  1. Verba

Verba dapat dikenali melalui:

  1. Bentuk morofologis,
  2. Perilaku sintaksis,
  3. Perilaku semantis dari keseluruhan kalimat. Selain itu, verba dapat didampingi dengan kata

Contoh :

  • Ia tidak belajar di kampus.
  • Ia tidak makan
  • Mereka tidak menulis

Berdasarkan bentuk morfologis, verba dibedakan menjadi:

  1. Verba dasar (tanpa afiks atau imbuhan), misalnya makan, pergi, minum, datang, duduk;
  2. Verba turunan
  3. Verba dasar + afiks (wajib) misalnya: menduduki,mempelajari, menyanyi;
  4. Verba dasar (terikat) = afiks (tidak wajib), misalnya (mem)baca, (men)dengar, (men)cuci;
  5. Verba dasar (terikat afiks) = afiks (wajib), misalnya bertemu, bersua, mengungsi;
  6. Bentuk ulang (redupli-kasi), misalnya berjalan-jalan, minum-minum, duduk-duduk, mengulang-ulang;
  7. Majemuk, misalnya cuci mata, sapu tangan, gulung tikar.

Berdasarkan perilaku sintaksis, yaitu sifat verba dalam hubungannya dengan kata lain dalam bentuk frasa (kelompok kata), klausa (anak kalimat), dan kalimat, dengan memperhatikan fungsi, jenis, dan perilaku dalam kalimat (sintaksis).

Berdasarkan fungsi:

Contoh:

  1. Berolah raga menyehatkan badan. (verba sebagai subjek)
  2. Ia mengajari membaca. (verba sebagai objek)
  3. Ia pergi berekreasi. (verba sebagai keterangan)

Berdasarkan jenis dalam hubungan verba dengan nomina:

Contoh:

  1. Ia mempelajari bahasa Indonesia. (verba aktif subjek sebagai pelaku)
  2. Ia diberi penghargaan. (verba pasif sebagai sasaran atau penderita)
  3. Penjahat itu terbunuh. (verba pasif tidak dapat dibentuk menjadi aktif)
  4. Hatinya telah membatu. (verba aktif tidak dapat dibentuk menjadi pasif)

Berdasarkan interaksi verba (perilaku sintaksis, tindakan, atau perbuatan) dengan nomina pendampingnya.

Contoh:

  • Mereka berpukul-pukulan. (verba resiprokal berbalasan)
  • Ia sedang berbicara. (verba nonresprokal tidak berbalasan)
  1. Adejktival

Adjektival ditandai dengan didampingi kata lebih, sangat, agak, dan paling. Berdasarkan bentuknya, adjektival dibedakan menjadi:

  1. Adjektival dasar, misalnya: baik, adil, boros;
  2. Adjektival turunan, misalnya: alami, baik-baik, sungguh-sungguh;
  3. Adjektival frasa, misalnya: panjang tangan, murah hati, buta warna (subordinatif) dan gemuk sehat, cantik jelita, aman sentosa (koordi-natif).
  4. Nomina

Nomina ditandai dengan ketidakpadatannya bergabung dengan kata tidak, tetapi dapat dinegatifkan dengan kata bukan. Nomina dapat dibedakan berdasarkan bentuknya (nomina dasar dan nomina turunan)dan berdasrakan subkategori (nomina bernyawa, tidak bernyawa, nomina terbilang, dan tidak terbilang).

Contoh:

Nomina dasar: rumah, orang, burung

Nomina turunan: kekasih, pertanda, petinju, tulisan, pengawasan, persatuan, kemerdekaan

Nomina bernyawa: manusia, sapi kerbau

Nomina tidak bernyawa: rumah, sawah, tanah, sungai

Nomina terbilang: lima orang, seratus pohon, sekuntum bunga

Nomina tidak terbilang: air laut, bintang, awan, langit

  1. Pronomina

Pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu ke nomina lain dan berfungsi menggantikan nomina. Ada tiga macam pronomina, yaitu:

  1. Pronomina persona (mengacu kepada orang pertama, orang kedua, orang ketiga baik tunggal maupun jamak);
  2. Pronomina penunjuk (umum dan tempat);
  3. Pronomina penanya (orang, barang, dan pilihan).

Contoh:

  • Pronomina Persona

Pronomina persona pertama tunggal: saya, aku, daku

Pronomina persona kedua tunggal: engkau, kamu, Anda, Kau, -mu

Pronomina persona ketiga tunggal: ia, dia, beliau, -nya

Pronomina persona pertama jamak: kami

Pronomina persona kedua jamak: kalian, kamu sekalian, Anda sekalian, kamu semua

Pronomina persona ketiga jamak: mereka

  • Pronomina Penunjuk

Pronomina penunjuk umum: ialah, ini, itu

Pronomina penunjuk tempat: sini, situ, sana

  • Pronomina Penanya

Pronomina penyanya: siapa, apa, mengapa, dengan apa, mana, di mana, ke mana, dari mana, bagaimana, dan bilamana.

  1. Numerial

Numerial dapat diklasifikasikan berdasarkan subkategori, yaitu takrif dan tak takrif.

  1. Numerial takrif (tertentu) terdiri atas
  • Numerial pokok ditandai dengan jawaban berapa? Satu, dua, tiga, dan seterusnya;
  • Numerial tingkat ditandai dengan jawaban yang ke berapa? Kesatu, kedua, dan seterusnya;
  • Numerial kolektif ditandai dengan satuan bilangan dosin, gross, kodi, meter, rupiah, dolar.
  1. Numerial tak takrif (tidak tentu) misalnya berapa, berbagai, segenap,, semua.
  2. Adverbia

Adverbia adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektival, nomina predikatif, atau kalimat. Dalam kalimat adverbial dapat mendampingi adjektival, numerial, atau proposisi.berdasarkan betuknya, adverbial mempunyai bentuk tunggal dan bentuk jamak.

Contoh:

  1. Bentuk Tunggal

Orang itu sangat bijaksana.

Ia hanya membaca satu buku, bukan dua.

Ia lebih sukses dibanding teman seangkatannya.

  1. Bentuk Jamak

Mereka belum tentu pergi hari ini.

Mereka benar-benar mendatangi perpustakaan kampus.

Langit berawan tebal jangan-jangan akan turun hujan.

  1. Interogativa

Interogativa berfungsi sebagai penggatin sesuatau yang akan diketahui oleh pembicara atau mengukuhkan sesuatau yang telah diketahui. Kata yang digunakan dalam interogativa adalah apa, siapa, berapa, mana, yang  mana, mengapa dan kapan.

Contoh :

  • Berapa uang yang kamu perlukan ?
  • Yang mana rumah orang itu ?
  • Mengapa kamu tertarik pada topik penelitian itu?
  1. Demonstrativa

Demonstrativa berfungsi untuk menunujkan sesuatu didalam atau diluar wacana. Sesuatu itu disebut antesedan. Kata yang menujukan demostrativa adalah ini, itu, disini, disini, berikut dan disitu.

Contoh :

  • Disini kita akan berkonstrasi untuk menghasilkan karya terbaik kita
  • Buku ini merupakan indikator bahwa orang yang membaca akan suskes
  • Penjahat itu ditahan berikut dengan barang bukti kejahtannya
  1. Artikula

Artikula berfungsi untuk mendampingi nomina dan verba pasif. Kata yang menujukan artikula adalah si,ang, para, kaum dan umat.

Contoh :

  • Si kecil itu suka merengek – rengek minta gendong
  • Sang penyelama akan datang saat kita perlukan
  • Sri Baginda raja akan selalu membri nasihat kepada prajurit
  1. Perposisi

Perposisi adalah kata yang terletak didepan kata lain sehingga berbentuk prasa atau kemlompok atau sering siebut kata depan. Preposisi memounyai dua kata bentuk yaitu :

  1. Preposisi dasar (di, ke, dari, pada, demi)
  2. Preposisi turunan ( diantara, diatas, kedalam, disamping, dari samping, diluar, dan kepada)

Contoh :

  • Demi kemakmuran bangsa mari kita tegakkan hukum dan keadilan.
  • Perjuangan bangsa Indonesia menuuju masyarakat adil dan makmur dari awal kemerdekaan hingga saat ini perlu ditingkatkan.
  • Panitia lomba mengarang ilmiah nasional meminta kepada saya untuk menjadi pada tingkat final.
  • Diantara pesera lomba terdapat nama seorang peserta yang pernah menjuari komab berturut – turut.
  1. Konjungsi

Konjungsi berfungsi untuk menghubungkan bagian bagian kalimat atau kalimat yang satu dengan kalimat yang lain dalam suatu wacana. Konjungsi dikelompokkan dalam dua jenis.

  1. Konjungsi Intrakalimat : agar, atau, dan hingga, sedang, seingga, serta, supaya, tetapi dan sebagainya.

Contoh :

  • Ia belajar hingga larut malam .
  • Ia bekerja keras sehingga berhasil dalam mencapai cita-citanya .
  • Bapak berbuat baik kepada anaknya agar anak berbaikti kepada anaknya .
  • Bapak sibuk bekerja sednag anak santai-santai saja .
  • Ia kaya raya, tetapi hidupnya sederhana.

 

  1. Konjungsi ekstrakalimat : jadi, disamping itu, oleh karna itu, oleh sebab itu, dengan demikian, walaupun demikia, akhirnya atau tambahan pula.

Contoh :

  • Kualitas pendidikan di engara kita tertinggal diengara maju. Oleh sebab itu, kita harus bekerja keras untuk mengekar ketinggalan itu.
  • Pelestarian budaya hanya dilakukan dengan kreativitas baru yang berajar pada kekayaan budaya. Untuk itu, mahasiswa harus dilatih untuk memanfaatkaanya sehingga menghaslkan kreativitas baru tersebut.
  • Ia senantiasa membangun karakternya. Disamping itu ia juga memperluas wawasanya
  1. Fatis

Fatis berfungsi untuk memulai, mempertahakan, atau mengukuhkan pemicaraan. Jenis kata ini lazim digunakan dalam blog dan wawancara misalnya, ah, ayo, mari, nah dan yah.

Contoh :

  • Kita memiliki keayaa budaya, ayo kita ingkatkan produktivaitas agar menjadi produi baru sleera internasional
  • Mari, kia tingkatkan semangat kerja kita
  • Ah, itu hanya alasan yang dibuat-buat tidak sesuai dengan realitas yang ada.

 

  1. Teknik Pemilihan Kata (Diksi)
  2. Memilih kata-kata dalam bentuk baku karena dalam Bahasa Indonesia banyak digunakan juga kata-kata yang tidak baku

Contoh:

Tidak Baku Baku
Membikin membuat
Ketimbang daripada
Lantas lalu, kemudian
Cuma hanya
methode, metoda metode

 

  1. Menghindari kata-kata yang termasuk jargon atau prokem atau slang karena kata-kata tersebut tidak termasuk kata-kata baku, kecuali sebagai data.

Contoh:

tidak baku Baku
Beli ipok utas gelas (jargon) Beli kopi satu gelas

 

  1. Menghindari pemakaian kata-kata di mana, yang mana, yang digunakan sebagai kata penghubung.

Contoh:

Tidak baku Baku
Kota Jember merupakan kota di mana saya dilahirkan. Kota Jember merupakan kota tempat saya dilahirkan.
Masalahh yang mana sudah saya jelaskan tidak perlu ditanyakan lagi. Masalah yang sudah saya jelaskan tidak perlu ditanyakan lagi.

 

  1. Memilih kata-kata yang lugas, berekamakna, dan bermakna denotatif, bukan makna konotatif atau kias atau metaforis.

Contoh:

Konotatif Denotatif
Dalam pertengkaran itu, ia dijadikan kambing hitam. Kambing hitam itu dijual karena sangat diminati banyak orang.

 

  1. Memilih kata-kata bersinonim yang paling tepat, yang memungkinkan satu tafsiran makna yang paling sesuai dengan konteks dan maksud penulis.

Contoh:

Tidak tepat Tepat
Melihat pertunjukan wayang. Menonton pertunjukan wayang.

 

  1. Memilih kata-kata yang tidak emotif.

Contoh:

Emotif Tidak emotif
Itu semua menunjukkan kepicikan atau ketololan masyarakat setempat Itu semua menunjukkan kurangnya pengetahuan masyarakat setempat.

 

  1. Memilih kata dengan tepat, terutama kata ganti, kata kebijakan dan kebijaksanaan, serta kata dari dan daripada.
  2. Kata Ganti

Pemakaian kata saya,kita, dan kami seringkali tidak tepat dan seringkali dikacaukan. Pemakaian kata ganti yang tepat adalah saya untuk orang pertama tunggal, kami untuk orang pertama jamak, dan kita untuk orang pertama dan kedua jamak. Pemakaian kata ganti yang tidak tepat adalah kata kami diganti kata kita, di lain pihak kata saya diganti kata kami.

Contoh:

Tidak tepat Tepat
Kemarin sewaktu kita datang, dia sudah berada di sini. Kemarin sewaktu kami datang, dia sudah datang, dia sudah berada di sini.

 

  1. Kata kebijakan dan kebijaksanaan

Sebenarnya kedua kata tersebut merupakan kata yang benar dan baku. Akan tetapi, pemakaiannya berbeda sehinggaa sering tidak tepat. Kata kebijakan digunakan untuk menyatakan hal yang menyangkut politik atau strategi, sedangkan kebijaksanaan berkaitan dengan kearifan atau kepandaian seseorang dalam menggunakan akal budinya.

Contoh:

Tidak tepat Tepat
Berdasarkan kebijaksanaan pimpinan, penempatan pegawai harus sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. Berdasarkan kebijakan pimpinan, penempatan pegawai harus sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.
Berkat kebijakan orang tua, anak itu akhirnya tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik. Berkat kebijakasanaan orang tua, anak itu akhirnya tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik.

 

  1. Pemakaian kata dari dan daripada

Sebenarnya pemakaian kedua kata tersebut berbeda karena maknanya juga berbeda. Kata dari digunakan untuk menyatakan makna asal (asal tempat dan asal bahan), sedangkan kata daripada untuk menyatakan perbandingan.

Contoh:

Tidak tepat Tepat
Bangunan yang megah itu terbuat daripada bahan-bahan yang berkualitas tinggi. Bangunan yang megah itu terbuat dari bahan-bahan yang berkualitas tinggi.
Nilai ekspor Indonesia pada tahun 1989 lebih besar dari nilai ekspor tahun-tahun sebelumnya. Nilai ekspor Indonesia pada tahun 1989 lebih besar daripada nilai ekspor tahun-tahun sebelumnya.

 

  1. Memilih kata dalam bentuk frasa dengan tepat.

Contoh:

Tidak tepat Tepat
Terdiri dari Terdiri atas
Tergantung pada, tergantung daripada Bergantung pada
Bertujuan untuk Bertujuan
Berdasarkan pada Berdasarkan

Berdasarkan pada

Membicarakan tentang Berbicara tentang

Membicarakan …

Antara … dengan … Antara … dan …
Dalam menyusun Dalam penyusunan
Dibanding Dibandingkan dengan
Walau/meskipun ….., tetapi Walau/meskipun … (tanpa tetapi)

 

  1. Menghindari penggunaan frasa yang bersininim secara bersamaan.

Contoh:

Tidak tepat tepat
Disebabkan karena Disebabkan oleh

karena

Agar supaya Agar …

Supaya …

Dalam rangka untuk Dalam rangka …

Untuk …

Setelah … kemudian … Setelah …
Contoh jenis batuan misalnya … Contoh batuan ialah…

Misalnya …

Baik … ataupun … Baik … maupun …

 

  1. Peranti-peranti Diksi
  1. Peranti Kata Berdenotasi dan Berkonotasi

Denotasi adalah kata yang tidak mengandung makna tambahan atau perasaan tambahan makna. Adapun maknanya disebut makna denotatif, makna denotasional, makna kognitif, makna konseptual, makna idesional, makna referensial, atau makna proporsional. Jadi, makna denotatif itu dapat disebut makna yang sebenarnya, makna yang ditujukan oleh sesuatu yang disimbolkan.

Sebuah perantai duduk dalam kelas, misalnya saja, namnya ‘Kursi’. Maka, perantai untuk duduk itu disebut sebagai ‘kursi’. Kata ‘Kursi’ dalam hal ini memiliki makna apa adanya, sesuai dengan yang disimbolkan, tidak ada nuansa makna lain di luar makna sesungguhnya. Jadi, makna demikkian itulah yang dimaksud makna denotatif.

Demikian pula di dalam karya-karya ilmiah kademik di perguruan tinggi, yang lazimnya juga membuat banyak mahasiswa kalang-kabut ketika dituntu menyelesaikannya. Karena karya ilmiah akademis semya dasarnya adalah atau fakta sesungguhnya, maka bahasa yang digunakannya pun harus denotatif, konseptual, referensial, sesuai dengan objek dan fakta sesungguhnya.

Sedangkan, makna konotatif adalah makna kias, bukan makna sesungguhnya. Maka, sebuah kata bisa diartikan berbeda pada masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Makna konotatif memiliki uansa makna subjektif dan cendenrung digunakan dalam situasi tidak formal.

Jadi, pada analisis data, bentuk-bentuk kebhasaan bernuansa makna denotatif lebih banyak di gunakan daripada bentuk-bentuk konotatif. Dalam pemakaian tidak formal yang banyak membutuhkan basa-basi, membutuhkan bentuk-bentuk kesantunan yang tinggi, banyak ditemukan bentuk-bentuk konotatif.

  1. Peranti Kata Bersinonimi dan Berantonimi

Kata ‘bersinonim’ berarti kata sejenis, sepadan, sejajar, serumpun, dan memiliki arti sama. Secara lebih gampang dapat dikatakan bahwa sinonim sesungguhnya adalah persamaan makna kata. Adapun yang dimaksud adalah dua kata atau lebih yang brbeda bentuknya, ejaannya, pengucapan atau lafalnya, tetapi memiliki makna sama atau hampir sama. Contohnya saja kata ‘hamil’ dan ‘mengandung’ serta ‘bunting’. Ketiga bentuk kebahasaan itu dapat dikatakan bersinonim karena bentuknya berbeda, tetapi maknanya sama.

Berbeda lagi dengan kata berantonim berlawanan dengan kata sinonim. Bentuk kebahasaan tertentu akan dapat dikatakan berantonim kalau bentuk itu memiliki makna yang tidak sama dengan yang lainnya. Dalam linguistik dijelaskan bahwa antonim menunjukkan bentuk-bentuk kebahasaan itu memiliki relasi antar makna yang wujud logisnya berbeda atau bertentangan antara satu dengan lainnya. Bentuk makna antonim terbagi menjadi 4 : antonim kembar menunjuk kepada perbedaan antara dua entitas kebahasaan, misalnya ‘jantan’ dan ‘betina’, ‘bayi’ dan ‘dewasa’. Ciri yang mendasar dari kehadiran antonim kembar adalah entitas kebahasaan yang satu meniadakan entitas kebahasaan yang satunya. Dan yang ke dua antonim plural, ciri pokok antonim ini adalah bahwa penegasan terhadap anggota tertentu akan mencakup penyangkalan setiap anggota lainnya secara terpisah, misalnya kelas ‘logam’, kelas ‘tumbuhan’, kelas ‘buah-buahan’. Yang ke tiga antonim gradual, maksudnya antonim yang merupakan penyimpangan dari antonim kembar. Misalnya, bila di antonim kembar terdapat dikotomi ‘kaya’ dan ‘miskin’, sedangkan dalam antoni gradual terdapat ‘setengah kaya’ atau ‘lumayan kaya’ atau ‘agak kaya’. Yang ke empat antonim relasional, maksudnya, bentuk kebahasaan yang dianggap berantonim itu memiliki relasi kebalikan. Seperti, antara ‘guru’ dan ‘murid’.

  1. Peranti Kata Bernilai Rasa

Diksi juga mengajarkan untuk senantiasa menggunakan kata-kata yang bernilai rasa dengan cermat. Walaupun terkadang ditemukan bahwa kata baku tertentu tidak memiliki nilai rasa sama sekali. Sebaliknya, dapat pula ditemukan bahwa kata bernilai rasa jauh dari dimensi-dimensi kebakuan.

Sebagai contoh, ‘wanita’ dan ‘perempuan’ yang sering dipersoalkan, menggangap bahwa bentuk ‘perempuan’ lebih benar, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa ‘perempuan’ itu tidak memiliki nilai rasa.

  1. Peranti Kata Konkret dan Abstrak

Kata-kata konkret adalah kata-kata yang menunjuk pada objek yang dapat dipilih, didengar, dirasakan, diraba, atau dicium. Kata-kata konkret lebih mudah dipahami daripada kata-kata abstrak. Kata-kata konkret itu melambangkan atau menyimbolkan sesuatu. Misalnya : kata ‘meja’ dan ‘kursi’ merupakan kata konket. Akan tetapi kalau ‘pendidikan’ dan ‘pembodohan’’ juga ‘kemiskinan’ dan ‘kepandaian’ jelas merupakan kata-kata yang tidak dapat diindera.

Kata-kata abstrak lebih menunjuk kepada konsep atau gagasan. Kata-kata abstrak sering digunakan untuk mengungkapkan gagasan yang cenderung rumit, maka kata-kata abstrak sering digunakan untuk membuat persuasi atau argumentasi. Contohnya : kebahasaan seperti ‘pembodohan’ dan ‘kemiskinan’ tentu saja merupakan kata-kata abstrak yang hanya dapat ditangkap maknannya dengan kejernihan pikiran dan ketajaman pikir. Jadi, penafsiran makna kata-kata abstrak itu bukan melalui indera.

  1. Peranti Keumuman dan Kekhususan Kata

Kata-kata umum adalah kata-kata yang perlu dijabarkan lebih lanjut dengan kata-kata yang sifatnya khusus untuk mendapatkan perincian lebih baik. Kata-kata umum tidak tepat untuk mendeskripsikan sesuatu karena memiliki kadar akurasi yang rendah. Kata-kata umum lebih tepat digunakan untuk argumentasi atau persuasi, karena dapat dipahami bahwa kata-kata umum itu ruang lingkupnya lebih luas, lebih umum dan komprehensif.

Sebagai imbangannya kata-kata umum adalah kata khusus. Memang dalam hal ini kata-kata khusus merupakan kebalikan dari kata-kata umum. Kata-kata khusus cenderung digunakan dalam konteks terbatas, dalam kepentingan-kepentingan yang perlu pemerincian, ketepatan, dan keakuratan konsep. Maka, lazim dipahami bahwa kat-kata khusus adalah kata-kata yang sempit ruang lingkupnya, terbatas konteks pemakaiannya. Akan tetapi harus dipahami pula bahwa makin khusus sebuah kata, maka makin jelaslah maknanya. Kata-kata khusus lebih menegaskan pesan, lebih memusatkan perhatian, dan memfokuskan pengertian.

  1. Peranti Kelugasan Kata

Diksi juga mengajarkan kata-kata lugas, apa adanya. Ada juga yang menyebutkan kata-kata lugas itu menembak langsung (to the point), tegas, lurus, apa adanya. Kata-kata lugas juga merupakan kata-kata yang sekaligus ringkas, tidak merupakan frasa panjang, tidak mendayu-dayu, dan sama sekali tidak terbelit-belit. Lazimnya, kata-kata lugas itu juga bukan merupakan bentuk kebahasaan kompleks.

  1. Peranti Penyempitan dan Perluasan Makna Kata

Dalam diksi ini atau pemilihan kata, bahasa yang hidup itu selalu berkembang. Perkembangan terjadi karena adanya entitas kebahasaan yang beragam. Sehingga sebuah kata dapat mengalami penyempitan makna apabila di dalam kurun waktu tertentu maknanya bergeser dari semula yang luas ke makna yang sempit atau sangat terbatas. Penyempitan makna ini bisa merupakan tuntunan kehidupan dan perkembangan bahasa. Contohnya saja, ‘pendeta’ yang dulu bermakna orang yang berilmu, tetapi kini menyempit maknanya menjadi ‘guru agama kristen’ atau ‘pengkhotbah Kristen’.

Untuk mengimbanginya makna penyempitan maka ada makna perluasan. Sebuah makna kebahasaan dikatakan akan meluas jika dalam kurun waktu tertentu maknanya akan bergeser dari semula sempit ke makna yang lebih luas.

 

  1. Aneka Kasus Diksi

Pada bagian ini, akan di berikan beberapa kasus kebahasaan yang berkaitan dengan diksi atau pemilihan kata, yaitu :

  • Kasus Ihlas dengan Ikhlas
  • Kasus Pake dengan Pakai
  • Kasus Sholat dengan Salat
  • Kasus Propinsi dengan Provinsi
  • Kasus Analisa dengan Analisis

PENUTUP

Diksi adalah pilihan kata. Pilihan kata adalah proses atau tindakan memilih kata yang dapat mengungkapkan gagasan secara tepat, hasil dari proses atau tindakan pemilihan kata disebut pilihan kata.

Dalam mengungkapkan gagasan, perasaan, dan pikiran secara tepat dalam bahasa, baik lisan maupun tulisan, pemakaian bahasa hendaknya dapat memenuhi beberapa kriteria dalam pemilihan kata, yaitu : ketepatan, kecermatan dan keserasian.

Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin di sampaikannya, baik secara lisan maupun tulisan. Pemilihan kata juga harus sesuai dengan situasi kondisi dan tempat. Berdasarkan kesimpulan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa diksi tidak serta merta hal pilih-memilih kata melaikan untuk menyampaikan sesuatu hal agar pembaca atau pendengar memahami maksud dan tujuan makna yang di sampaikan.

Penerapan Humas dalam Organisasi

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Dalam upaya mengenal, memahami dan mengelola Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), diperlukan kejelasan mengenai pengertian dan peranan tentang Organisasi Siswa Intra Sekolah itu sendiri. Dengan pengertian dan peranan yang jelas, akan membantu para pengurus OSIS, pembina, dan perwakilan kelas untuk mendayagunakan OSIS, sesuai dengan fungsinya. secara organisasi pengertian OSIS itu sendiri merupakan salah satu jalur pembinaan kesiswaan, dan merupakan salah satu sistem yang berfungsi sebagai tempat kehidupan berkelompok siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Dalam osis sendiri terdapat kepengurusan untuk mengatur jalannya organisasi. Dalam organisasi osis terdapat ketua, wakil, bendahara, sekretaris dan seksi-seksi yang mempunyai tugas berbeda dengan satu tujuan yang sama. Seperti tugas ketua osis yang mengatur dan mengawasi jalannya suatu organisasi, bendahara yang mengatur keuangan osis, serta seksi-seksi, seperti SDM yang mengatur sumberdaya manusia.

 Salah satu tujuan osis adalah menjadikan sumber daya manusia yang cerdas dan bermartabat, untuk mewujudkannya dibutuhkan strategi yang cerdas pula. Maka tak jarang osis selalu mengadakan acara yang dapat meningkatkan kecerdasan siswa seperti lomba cerdas cermat saat ulangtahun sekolahnya, lomba seni dan masih banyak lagi. Tak hanya itu tujuan osis selanjutnya adalah menyiapkan calon pemimpin hebat untuk meneruskan estafet kepemimpinan osis agar sekolahnya terus maju dan berkembang, untuk itu terdapat banyak cara untuk mengajak para siswa untuk bergabung dengan osis. Disini akan dibahas bagaimana strategi persuasive SMA N 2 Karanganyar dalam merekrut anggotanya.

2. RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimana pengertian strategi, organisai dan strategi organisasi ?
  2. Apa saja strategi yang digunakan SMA N 2 Karanganyar untuk merekrut dan mempertahankan anggota ?

3. TUJUAN

  1. Untuk mengetahui pengertian strategi, organisasi, dan strategi organisasi
  2. Untuk memberikan gambaran tentang penerapan strategi organisasi yang merupakan kegiatan yang mengarah pada penetapan kinerja.

BAB II

PEMBAHASAN

PENGERTIAN STRATEGI, ORGANISASI, DAN STRATEGI ORGANISASI

  1. Pengertian Strategi

Strategi adalah proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi, disertai penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai.

Strategi terdiri dari dua macam yaitu :

  1. Strategi persuasif

Yaitu strategi mempengaruhi atau mengajak seseorang secara halus agar bertindak sesuai yang diharapkan. Strategi ini mendorong seseorang untuk berperan aktif dalam aktifitas organisasi agar tercapainya sebuah tujuan.

  1. Strategi Kontribusi

Yaitu stratrgi yang dilakukan dengan bekerjasama antar pihak satu dengan pihak lain.

  1. Pengertian Organisasi

Organisasi adalah suatu sistem aktivitas kerjasama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk mencapai suatu tujuan yang sama. Salah satu contoh organisasi adalah osis, osis adalah suatu organisasi di lingkungan sekolah dimana osis memegang peranan penting dalam menertibkan peraturan yang telah dibuat oleh pihak sekolah.

Susunan pengurus OSIS terdiri setidaknya atas Pengurus Inti dan Seksi-seksi. Pengurus inti terdiri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris dan Bendahara. Adapun seksi-seksi dibentuk sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di sekolah masing-masing. Penamaan seksi atau bidangnya pun macam-macam. Ada seksi keagamaan , seksi kepemimpinan,  seksi Humas, seksi Seni dan bahasa, seksi Keterampilan dan Kewiraswastaan, Seksi Pembinaan Kepribadian dan Budi Pekerti Luhur dan mungkin masih ada sejumlah seksi lainnya.

Kepengurusan OSIS selalu diganti setiap tahun melalui sebuah mekanisme sistem yang sudah diatur sedemikian rupa. Ada yang menyelenggarakan sebagaimana layaknya Pemilu, dengan menyediakan bilik suara, kotak suara, lembar pemilih, kampanya monologis dan dialogis, pemaparan visi misi dan program kerja, sampai ke model pemilihan yang sederhana yakni dengan mengenalkan para calon Ketua OSIS ke masing-masing kelas, diberi kesempatan berorasi 3-5 menit, kemudian para siswa yang ada di kelas disuruh memilih dengan cara menulis di kertas yang sudah disediakan panitia. Ada juga sistem rekrutmen pengurus OSIS yang berdasarkan intervensi (campur tangan) pihak sekolah. Maksudnya ialah Kepala Sekolah, Pembina OSIS atau Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan sudah menentukan siapa-siapa saja yang berhak dan boleh menjadi Ketua dan pengurus OSIS tanpa harus melalui sistem pemilihan langsung. Yang pasti masing-masing memiliki sisi positif dan negatifnya.

  1. Pengertian Strategi Organisasi

Pengertian strategi dalam konteks organisasi adalah penetapan berbagai tujuan dan sasaran jangka pangjang yang bersifat mendasar bagi sebuah organisasi yang dilanjutkan dengan penetapan rencana aktivitas  dan pengalokasian sumber daya yang diperlukan guna mencapai tujuan.

  1. PENERAPAN STRATEGI ORGANISASI
  2. SISTEM PEMILIHAN OSIS DI SMA N 2 KARANGANYAR

Kepengurusan OSIS selalu diganti setiap tahun melalui sebuah mekanisme sistem yang sudah diatur sedemikian rupa. Ada yang menyelenggarakan sebagaimana layaknya Pemilu, dengan menyediakan bilik suara, kotak suara, lembar pemilih, kampanya monologis dan dialogis, pemaparan visi misi dan program kerja, sampai ke model pemilihan yang sederhana yakni dengan mengenalkan para calon Ketua OSIS ke masing-masing kelas, diberi kesempatan berorasi 3-5 menit, kemudian para siswa yang ada di kelas disuruh memilih dengan cara menulis di kertas yang sudah disediakan panitia. Ada juga sistem rekrutmen pengurus OSIS yang berdasarkan intervensi (campur tangan) pihak sekolah. Maksudnya ialah Kepala Sekolah, Pembina OSIS atau Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan sudah menentukan siapa-siapa saja yang berhak dan boleh menjadi Ketua dan pengurus OSIS tanpa harus melalui sistem pemilihan langsung. Yang pasti masing-masing memiliki sisi positif dan negatifnya.

FUNGSI OSIS DI SMA N 2 KARANGANAYR

  1. Sebagai Wadah

Organisasi Siswa Intra Sekolah merupakan satu-satunya organisasi siswa yang resmi di sekolah dan sebagai wadah kegiatan para siswa di sekolah dengan jalur pembinaan yang lain untuk mendukung tercapainya tujuan pembinaan kesiswaan.

2. Sebagai Motivator

Motivator adalah pendorong lahirnya keinginan dan semangat para siswa untuk berbuat dan melakukan kegiatan bersama dalam mencapai tujuan.

OSIS  sebagai motivator berperan untuk menggali minat dan bakat siswa  serta mengembangkannnya melalui kegiatan-kegiatan OSIS dan ekstrakurikuler.

3. Sebagai Preventif

Secara preventif OSIS ikut mengamankan sekolah dari segala ancaman yang datang dari  dalam maupun dari luar. Fungsi preventif OSIS akan terwujud apabila fungsi OSIS sebagai pendorong lebih dahulu harus dapat diwujudkan.

TUJUAN OSIS

  1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta menghargai karya artistik, budaya, dan intelektual.
  2. Memperdalam sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan kerjasama secara mandiri, berpikir logis dan demokratis.
  3. Membangun, mengembangkan wawasan kebangsaan dan rasa cinta tanah air dalam era globalisasi.

STRATEGI

  • Cara menarik siswa untuk bergabung dalam kepengurusan OSIS
  1. Dengan sosialisasi apa saja kelebihan dan manfaat OSIS
  2. Mampu menciptakan image yang menarik
  3. Mengadakan event-event yang menarik melibatkan banyak orang
  • Cara mempertahankan anggota dalam sebuah kepengursan
  1. anggota harus di ikat suatu kontrak atau janji
  2. memberikan kenyamanan antar anggota
  3. meningkatkan rasa kekeluargaan
  4. diberikan tanggung jawab

BAB III

 PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Setiap organisasi itu pasti membutuhkan  strategi didalamnya. Jadi strategi organisasi tidak hanya satu, oleh karena itu strategi satu dengan yang lain saling menopang sehingga membentuk satu kesatuan kokoh yang mampu menjadikan organisasi sebagai satu lembaga yang mampu bertahan dalam kondisi lingkungan yang tidak menentu.dan ini juga membuktikan bahwa strategi dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi suatu organisasi.

  1. SARAN

Dalam membuat makalah ini, mahasiswa harus memahami apa yang menjadi bahan pokok permasalahan sehingga pembaca dapat memahami isi dari makalah yang telah di buat. Dengan membaca isi makalah ini pembaca dapat merasa puas dan pembaca dapat mengetahui tentang pentingnya strategi dalam sebuah organisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Salusu, J. 1996. “Pengambilan Keputusan Stratejik Untuk Organisasi Publik dan Organisasi Nonprofit”. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

http://www.scribd.com/doc/59704026/Strategi-Organisasi

http://www.slideshare.net/DewiRianti/teori-organisasi-menurut-para-ahli

http://carapedia.com/pengertian_definisi_strategi_info2036.htm